Bahasa Indonesia Kelas II Semester 2

Nama Guru :Nina Murni, S.Pd
Pelajaran : Bahasa Indonesia

A.Pengertian Wacana
Wacana berasal dari bahasa Inggris discourse, yang artinya “kemampuan untuk maju menurut urut-urutan yang teratur dan semestinya.” Pengertian lain adalah “komunikasi sebuah pikiran, baik lisan maupun tulisan, yang resmi dan teratur.” Jadi, wacana dapat diartikan sebuah tulisan yang teratur menurut urut-urutan yang semestinya atau logis. Dalam wacana, setiap unsur harus memiliki kesatuan dan kepaduan. Berikut hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis wacana.
1.Menentukan tema
Tema wacana akan diungkapkan dalam corak atau jenis tulisan. Tema wacana bergantung pada tujuan dan keinginan penulis.
2.Menentukan tujuan membuat wacana
Tujuan berkaitan dengan bentuk atau model isi wacana.
3.Membuat kerangka karangan
Kerangka karangan terdiri atas topik-topik yang merupakan penjabaran dari tema. Topik­-topik itu disusun secara sistematis. Hal itu dibuat sebagai pedoman agar karangan dapat terarah dengan memperlihatkan pembagian unsur-unsur karangan yang berkaitan dengan tema Langkah-langkah menyusun kerangka karangan adalah sebagai berikut :
a.Menentukan tema/topik karangan
b.Menjabarkan tema ke dalam topik-topik/subtema
c.Mengembangkan topik-topik menjadi subtopik
d.Menginvestaris sub-sub topik
e.Menyeleksi topik dan sub-subtopik yang cocok
f.Menentukan pola pengembangan karangan

B.Jenis-Jenis Wacana
Berdasarkan bentuk atau jenisnya, wacana dibedakan menjadi wacana narasi, deskripsi, eksposisi, argumentatif, dan persuasi.
1.Narasi
Narasi adalah cerita yang didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Narasi dapat berisi fakta, misalnya biografi (riwayat seseorang), otobiografi/riwayat hidup seseorang yang ditulis sendiri, atau kisah pengalaman. Narasi seperti ini disebut dengan narasi ekspositoris. Narasi dapat pula berisi cerita khayal/fiksi atau rekaan. Narasi ini disebut dengan narasi imajinatif.
Unsur-unsur penting dalam sebuah narasi meliputi kejadian, tokoh, konflik, alur/plot, dan latar (waktu, tempat, dan suasana). Narasi diuraikan dalam bentuk penceritaan yang ditandai oleh adanya uraian secara kronologis (urutan waktu). Penggunaan kata hubung yang menyatakan waktu atau urutan, seperti lalu, selanjutnya, keesokan harinya, atau setahun kemudian kerap dipergunakan. Tahapan menulis narasi meliputi menentukan tema cerita, menentukan tujuan, mendaftarkan topik atau gagasan pokok, menyusun gagasan pokok menjadi kerangka karangan secara kronologis atau (urutan waktu), mengembangkan kerangka menjadi karangan.

2.Deskripsi
Kata deskripsi berasal dari bahasa Latin discribere, yang berarti gambaran, perincian, atau pembeberan. Deskripsi adalah, karangan yang menggambar kan suatu objek berdasarkan hasil pengamatan, perasaan dan pengalaman penulisnya. Tujuannya agar pembaca memperoieh kesan atau citraan sesuai dengan pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulis sehingga seolah-olah pembaca yang melihat, merasakan, dan mengalami sendiri objek tersebut. Untuk mencapai kesan yang sempurna, penulis deskripsi merinci objek dengan kesan, fakta, dan citraan.
Berdasarkan sifat objeknya, deskripsi dibedakan atas 2 macam, yaitu deskripsi imajinatif dab faktual. Deskripsi imajinatif/impresionis ialah deskripsi yang menggambarkan objek benda sesuai kesan/imajinasi penulis. Deskripsi faktual/ekspositoris ialah deskripsi yang menggambarkan objek berdasarkan urutan logika atau fakta-fakta yang dilihat. Tahapan menulis karangan deskripsi, meliputi menentukan objek pengamatan, menentukan tujuan, mengadakan pengamatan dan mengumpulkan bahan, menyusun kerangka karangan. mengembangkan kerangka menjadi karangan.

3.Eksposisi
Kata eksposisi berasal dari bahasa Latin exponere, yang berarti memamerkan, menjelaskan, atau menguraikan. Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci (memaparkan) sesuatu dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembaca.
Karangan eksposisi umumnya digunakan pada karya-karya ilmiah, seperti artikel ilmiah, serta makalah untuk seminar, simposium, atau penataran. Untuk mendukung akurasi pemaparannya, pengarang eksposisi sering menyertakan bentuk-bentuk nonverbal seperti grafik, diagram, tabel, atau bagan dalam karangannya. Pemaparan dalam eksposisi dapat berbentuk uraian proses, tahapan, cara kerja, dan sebagainya dengan pola pengembangan ilustrasi, definisi, dan klasifikasi.
Tahapan menulis karangan eksposisi meliputi menentukan objek pengamatan, menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi, mengumpulkan data atau bahan, menyusun kerangka karangan, serta mengembangkan kerangka menjadi karangan. Pengembangan kerangka karangan berbentuk eksposisi dapat berpola penyajian berikut :
a.Urutan Topik
Pola urutan ini berkaitan dengan penyebutan bagian-bagian suatu benda, hal, atau peristiwa tanpa memproritaskan salah satu bagian mana yang terpenting. Semua bagia dianggap bernilai sama.
b.Urutan Klimaks dan Antiklimaks
Pola penyajian dimulai dari hal yang mudah (sederhana) menuju ke hal yang semaki penting (puncak peristiwa), dan sebaliknya untuk antiklimaks.

4.Argumentasi
Karangan argumentasi ialah karangan yang berisi pendapat, sikap, atau penilaia terhadap suatu hal disertai dengan alasant bukti-bukti, dan pernyataan-pernyataan yan logis. Tujuan karangan argumentasi adalah berusaha meyakinkan pembaca akan kebenara pendapat pengarang. Karangan argumentasi dapatjuga berisi tanggapan atau sanggaha terhadap suatu pendapat dengan memaparkan alasan-alasan yang rasional dan logis.
Tahapan menulis karangan argumentasi meliputi menentukan tema atau topik permasalahan, merumuskan tujuan penulisan, mengumpulkan data atau bahan (berupa bukti, fakta, atau pernyataan yang mendukung), serta menyusun, dan mengembangkan ­kerangka menjadi karangan. Pengembangan kerangka karangan argumentasi dapat berpola sebab-akibat, akibat-sebab, atau pemecahan masalah. Pola urutan sebab-akibat dimulai dari topik/ gagasan yang menjadi sebab, kemudian berlanjut menjadi akibat. Pola urutan akibat-sebab dimulai dari pernyataan yang merupakan akibat, kemudian dilanjutkan dengan hal-hal yang menjadi penyebab. Pola urutan pemecahan masalah, bermula dari aspek-­aspek yang menggambarkan masalah kemudian mengarah pada pemecahan masalah.

This entry was posted in Bahasa Indonesia, Normatif and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s